Cari Blog Ini

Kamis, 18 Maret 2021

BANDESA DESA ADAT BUKIT GALAH UCAPKAN TERIMA KASIH KEPADA PUSAT DISTRIBUSI BALI

: Buah Alpukat Mentega yang sebelumnya dijual Rp. 3000,- per-kg, dibeli Rp. 10.000,- per-kg oleh Pusat Distribusi Bali 

Penyerahan Simbolis
Pengiriman Buah Alpukat Kerjasama Warda Desa Adat Bukit Galah dengan
Pusat Distribusi Bali 

Keberadaan Pusat Distribusi Bali, semakin dirasakan oleh krama Bali dan Desa Adat, terbaru Desa Adat Bukit Galah yang terletak di lereng Gunung Agung, melalui Bandesa Adatnya langsung memberikan apresiasi. 

Pasalnya, Pusat Distribusi Bali telah membantu menyalurkan alpukat yang merupakan hasil produksi pertanian dari Desa Adat Bukit Galah yang terdiri dari 32 KK Krama Adat tersebut. 

Bandesa Adat Bukit Galah, I Putu Suyasa yang merupakan Bandesa Adat tergolong masih muda dan lulusan STIKOM Bali tersebut menuturkan, sebelumnya dengan Krama Adat yang terbatas dan ada 4 Pura yang harus di sungsung, bagi Desa Adat cukup berat. 

Kehadiran Pusat Distribusi Bali sekitar akhir tahun 2020, memberikan banyak ide untuk mengembangkan potensi yang ada di Desa Adat Bukit Galah. Salah satunya adalah potensi buah alpukat mentega segar. 

Desa Adat kala itu didorong untuk membentuk Warung Desa Adat (WARDA) yang salah satu fungsinya sebagai unit logistik yang mengumpulkan hasil produksi krama adat Bukit Galah dan selanjutnya menyalurkan melalui Pusat Distribusi Bali. 

Skema ini dapat meningkatkan harga yang sebelumnya paling mahal Rp. 3000 - Rp. 5000 per-kg menjadi Rp. 10.000 - 12.500 per-kg. 

Pusat Distribusi Bali sendiri menyalurkan melalui toko toko ritel milik krama adat maupun desa adat dengan brand Tenten Mart dan Penggak Mart yang ada di seluruh Bali dan sebagian lagi disalurkan ke supermaket yang menjual kebutuhan fresh di Bali. 

Menurut I Gede Agus Arianta, Manager Operasional Pusat Distribusi Bali, sinergi antara Desa Adat dengan Pusat Distribusi Bali bisa terdiri atas 2 bentuk sinergi. Pertama Desa Adat membangun toko toko ritel baik milik Desa Adat sendiri maupun milik Krama Adat. Kedua, Desa Adat dapat mendorong krama adatnya untuk membangun toko ritel dengan brand Penggak Mart yang juga bisa di sinergikan dengan sistem jaringan dengan Desa Adat dan Pusat Distribusi Bali. 

Kunjungan Pusat Distribusi Bali ke Warda Desa Adat Bukit Galah 

Ketersediaan Toko Toko ini akan membuat market menjadi lebih besar dan skema selanjutnya adalah mendorong produk produk desa adat baik yang segar, setengah jadi, maupun produksi barang ready to eat atau ready to use untuk memanfaatkan toko toko ini untuk memperluas pasar. 

Keuntungan pertama adalah hasil dari toko ritel akan bisa dinikmati kembali sebagai keuntungan bagi Desa Adat, kedua Desa Adat yang memiliki produk juga bisa menjual di toko toko ritel yang ada diseluruh Desa Adat di Bali. 

Informasi lebih lanjut silahkan mendapatkan informasi awal tentang Pusat Distribusi Bali di nomor whatsapp 08113861484 atau klik tautan map PT. BALI SARI LINUWIH

0856-3757-178

https://maps.app.goo.gl/4i3TwzMxu3pakRpC7

Rabu, 17 Maret 2021

PEMILIK USAHA DI MASA PANDEMI “DIPAKSA” MENERAPKAN STRATEGI EFEKTIF & EFISIEN

“BBN : Banyak Pemilik Usaha Malah Menemukan Ide – Ide Baru atau Bahkan Dugaan Fraud Dalam Bisnisnya Sendiri”

Pandemi COVID – 19 ternyata mengajarkan banyak hal dan mengubah berbagai hal yang berhubungan dengan aktivitas dan rutinitas usaha. 

Salah satu yang diamati oleh Direktur Bali Business Network (BBN), I Made Abdi Negara adalah penjualan yang anjlok namun kondisi yang tetap harus mengoperasikan usaha terutama untuk level skala kecil dan menengah memaksa para pemilik usaha harus turun tangan sendiri. 

I Made Abdi Negara, Direktur Bali Business Network


“Hal ini banyak kami amati terjadi di kawasan Kintamani, dimana pemilik usaha resto, café dan coffee shop banyak yang terpaksa harus turun tangan untuk membeli bahan baku produksi usahanya dengan berbagai alasan “ujarnya ditemui dalam persiapan Program Pelatihan Baking Demo yang diadakan oleh Toko Bahan Kue Aromaku pada Selasa (9/3). 

Turun tangannya pemilik usaha ini dilakukan karena beberapa alasan, pertama; kunjungan pelanggan yang menurun berpengaruh langsung pada pendapatan usaha sehingga pemilik usaha harus mengurangi biaya-biaya dan salah satunya adalah pengurangan jam kerja atau bahkan pemberhentian sementara pekerja yang bertugas di divisi supporting. “Salah satu kandidat biasanya adalah SDM di divisi pendukung seperti buyer atau bagian pembelian”jelasnya. 

Alasan kedua adalah aktivitas pemilik usaha yang terbatas, menyebabkan mereka memiliki waktu yang cukup banyak untuk belanja sendiri secara langsung kebutuhan bahan baku untuk usahanya. “di cluster ini, pemilik usaha cenderung ingin merasakan langsung proses pembelian dan pencarian bahan baku untuk usahanya, ini menjadi semacam pengalaman berulang atau bahkan pengalaman baru sama sekali bagi pemilik usaha”imbuhnya. 

Kedua alasan yang dominan ini, selain alasan alasan lain yang diperoleh dari pengamatan maupun hasil wawancara terbatas dengan pelaku usaha ternyata menimbulkan banyak efek positif. 

Abdi, yang juga merupakan pengusaha muda asal Kabupaten Jembrana ini menuturkan, banyak pemilik usaha yang memanfaatkan momen “keterpaksaan” ini untuk mereview lagi sistem di usaha yang sebelumnya tidak terlalu diperhatikan hingga ke hal yang teknis karena sudah diserahkan kepada manajemen. Di beberapa kondisi, bahkan pemilik usaha memanfaatkan hal ini untuk mengajak calon penerus usahanya yang sebelumnya masih sekolah atau kuliah untuk ikut serta mengurus dan merasakan bagaimana praktek pengelolaan usaha secara langsung. 

“Ini kemudian menjadi pengalaman positif, pelaku usaha bisa lebih menghemat pendapatan yang sangat terbatas dan keterlibatan keluarga dapat menimbulkan adanya ide ide baru yang segar dan berguna bagi usaha yang dikelola”imbuhnya. 

Pemilik Usaha juga menyatakan banyak menemukan cara untuk menghemat biaya produksi dibandingkan dengan kondisi saat normal. Contohnya dituturkan Abdi, adalah pembelian bahan baku yang dilakukan secara langsung di pasar atau toko penyedia bahan baku yang ternyata bisa lebih murah harganya dan tidak harus membeli dalam jumlah besar seperti saat bekerjasama dengan suplier, sehingga bisa mengendalikan potensi bahan baku rusak dan pengeluaran awal yang terlalu besar. 

“Banyak pemilik usaha resto dan café serta coffee shop bercerita, setelah melakoni sendiri mencari dan membeli bahan baku tanpa harus hanya menunggu suplier datang membawakan, akhirnya pelaku usaha banyak mendapatkan ide baru, serta menyadari bahwa sebelumnya strategi manajemen yang dilakukan kurang tepat”jelasnya. 

Pembelian secara langsung yang dilakukan di Toko Bahan Baku yang tepat ternyata malah bisa mengurangi biaya produksi, mengatur lebih baik biaya awal produksi karena tidak harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk membeli bahan pokok, dan sekaligus mengurangi resiko fraud oleh oknum internal maupun oknum suplier yang sering terjadi dan sebelumnya luput   dari pengamatan pelaku usaha. 

“Pandemi COVID 19, selain dampak negative terhadap ekonomi yang sangat dirasakan, ternyata juga mampu membawa pelaku usaha pada temuan temuan strategi yang lebih efektif dan efisien dalam mengelola usahanya”tutur Abdi menutup wawancara.


Minggu, 11 Oktober 2020

BANDESA AGUNG NOBATKAN DESA ADAT TANJUNG BENOA SEBAGAI PELOPOR IMPLEMENTASI KOMITMEN PAYUNG SATU LANGIT PEREKONOMIAN ADAT BALI

Dampak Pandemi COVID 19 terhadap perekonomian yang secara langsung meruntuhkan kejayaan industri pariwisata di Bali, merupakan tantangan bagi Desa Adat untuk tetap menjaga eksistensi dan tanggungjawabnya terhadap krama adat tidak terkecuali di bidang ekonomi. Aku 

Hal ini mengemuka dalam kegiatan pembukaan Lumbung Desa Adat Tanjung Benoa yakni Toko Tenten Mart Desa Adat yang dilaksanakan dengan sederhana dan Protokol Kesehatan COVID 19 yang sangat ketat pada Minggu (11/10) bertempat di Toko Tenten Mart Desa Adat Tanjung Benoa 1 , Jalan Pratama Tanjung Benoa. 


Acara yang dihadiri oleh Bandesa Agung, Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet, Kepala Dinas Pemajuan Masyarakat Adat Provinsi Bali, I Gusti Agung Ketut Kartika Jaya Seputra,  Bandesa Madya Kabupaten/Kota dan prajuru desa adat tersebut, menjadi tonggak penting dalam upaya membangun kemandirian di sektor ritel berbasis desa adat melalui pendirian Tenten Mart Desa Adat yang pola distribusi dan pengelolaan dilakukan secara terpusat. 

Dalam sambutannya Bandesa Adat Tanjung Benoa, I Made Wijaya SE., menyatakan keberadaan Lumbung Desa Adat Tanjung Benoa melalui Toko Tenten Mart Desa Adat adalah untuk melaksanakan amanat Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2019 Tentang Desa Adat di Bali khususnya pengelolaan potensi ekonomi desa adat di sektor riil. Tenten Mart Desa Adat yang secara langsung menjadi pusat penyediaan barang kebutuhan krama adat tersebut, sangat dirasakan manfaatnya karena setiap labdha yang diperoleh, akan kembali kepada krama adat Tanjung Benoa sendiri. 

Selain itu, pola kerjasama yang dilakukan dengan Pusat Distribusi Bali Sari Linuwih yang juga dimiliki oleh Desa Adat di Bali secara kolektif, memudahkan Tenten Mart Desa Adat Tanjung Benoa dalam memperoleh barang dagangan serta meminimasi resiko kegagalan dengan pengelolaan manajemen. 

Selain dampak kepada krama adat secara luas, bagi Yowana Desa Adat Tanjung Benoa, keberadaan Tenten Mart Desa Adat Tanjung Benoa juga menjadi laboratorium wirausaha sekaligus tempat berkarir di tengah minimnya lapangan pekerjaan akibat dari dampak pandemi Covid 19. 

"Dalam situasi saat ini, Desa Adat Tanjung Benoa dimana kami sebagai Prajuru yang bertugas dan bertanggungjawab memberikan pelayanan kepada krama adat, harus mampu memanfaatkan setiap peluang, sekecil apapun, demi kesejahteraan krama adat secara langsung maupun tidak langsung"ungkapnya. 

Labda sebagai benefit dari utsaha Tenten Mart Desa Adat Tanjung Benoa ini, akan didedikasikan untuk mewujudkan Panca Kreta, yakni kesejahteraan kolektif krama desa adat dan desa adat secara berlapis) sekaligus untuk menunjang pelaksanaan Panca Yadnya. 

Hal ini merupakan implementasi dari tagline  _Dari, Oleh dan Untuk Desa Adat_ sebuah upaya untuk menuju kemandirian sekaligus kesejahteraan Desa Adat agar mandiri dan bermartabat. 

Ini adalah salah satu langkah konkret untuk mengurangi beban krama adat yang sudah terseok seok perekonomiannya akibat Pandemi COVID 19. 

Di sisi lain, bagi krama adat secara langsung, program _membership_  juga akan memberikan keuntungan berupa _cashback_ atau  _reward_  transaksi yang bisa langsung dirasakan oleh krama adat yang berbelanja di Tenten Mart Desa Adat Tanjung Benoa. 

Tenten Mart Desa Adat, ternyata mendapatkan sambutan yang sangat baik dari krama adat, krama tamiu dan tamiu yang ikut berbelanja dan memenuhi kebutuhan di Tenten Mart Desa Adat. 

Bandesa Agung, Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet dalam sambramawacana Ida menyampaikan kebahagiaan yang luar biasa karena Desa Adat dalam persfektif menuju Bali Era Baru telah mampu melakukan tindakan nyata di bidang perekonomian khususnya memanfaatkan celah dan peluang pasar captive yang dimiliki oleh Desa Adat. 

Dalam Sambrawacana yang disampaikan Bandesa Agung tersebut, secara khusus Ida menekankan pentingnya  pemberdayaan perekonomian adat,melalui semangat persatuan, _Gilik Saguluk, Para Sparo Sarpana Ya_ sebagai kunci dalam mewujudkan keberlanjutan tata kelola ekonomi adat menuju kemandirian. 

Menariknya, Bandesa Agung yang menobatkan Lumbung Desa Adat Tanjung Benoa sebagai "Pelopor Implementasi Komitmen Payung Satu Langit Perekonomian Adat Bali", mengutip sebuah slogan kuat untuk mendukung Toko Tenten Mart Desa Adat. _Lek yen sing meblanja di Toko Tenten Mart Desa Adat_ _Jengahang Ragane!_

Kepala Dinas Pemajuan Masyarakat Adat Provinsi Bali, I Gusti Ketut Agung Kartika Jaya Seputra yang turut hadir dan memberikan sambutan juga menyambut baik kiat Desa Adat Tanjung Benoa yang dinilai sejalan dengan tekad kuat Pemerintah Provinsi Bali melalui Bapak Gubernur Bali untuk memajukan, mengembangkan serta meningkat martabat Desa Adat sebagai warisan leluhur Bali yang adiluhung. 

Dalam keterangan tambahan, secara teknis Ida Bagus Widya selaku pimpinan di Bali Sari Linuwih menjelaskan bahwa konsep pemberdayaan _captive market_ di desa adat memiliki peluang yang sangat besar. 

Namun, kunci dari pemanfaatan peluang tersebut adalah ketersediaan barang dan minimasi resiko usaha dengan cara bekerjasama dan mendapatkan pendampingan oleh pihak - pihak yang memiliki pengalaman, pengetahuan dan keahlian dalam tata kelola utsaha ritel yang sangat rumit, detail dan beresiko gagal jika salah dalam pengurusannya.

 "Keberadaan Bali Sari Linuwih, secara tidak langsung mengambil 80% resiko kegagalan dari pendirian utsaha ritel yang selama ini sering dialami oleh kelompok maupun perorangan Krama Adat Bali" tutupnya.

Kamis, 30 April 2020

BALI SARI LINUWIH, SERAHKAN SUMBANGAN 2000 MASKER MELALUI MAJELIS DESA ADAT PROVINSI BALI

Ida Bagus Widya, Pimpinan Bali Sari Linuwih (Baju Biru) menyerahkan secara simbolis sumbangan Masker kepada Bandesa Agung, Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet di Puri Den Bencingah-Klungkung
Perkembangan kasus COVID 19 di Bali, saat ini mengalami babak baru dengan ditemukannya kasus transmisi lokal di Desa Bondalem dan Banjar Serokadan, Abuan - Susut Bangli. Hal ini tentu saja harus dijawab dengan aksi nyata untuk memastikan penularan tidak semakin meluas dan membahayakan populasi orang Bali, terlebih dengan cepatnya penularan virus yang menyebabkan Pandemi di hampir semua negara di dunia.



Menyikapi hal tersebut, Bali Sari Linuwih sebagai sebuah Utsaha Padruwen Krama Bali menyerahkan sumbangan Masker Non-Medis yang menjadi salah satu kebutuhan kesehatan paling penting dalam memutus mata rantai penyebaran COVID 19 melalui Majelis Desa Adat Propinsi Bali. 



Penyerahan dilakukan di Puri Den Bencingah, Akah - Klungkung, oleh Pimpinan Bali Sari Linuwih, Bapak Ida Bagus Widya didampingi Gde Widhi Budiman dan Kadek Ayu Yuliantini yang langsung diterima oleh Bandesa Agung Majelis Desa Adat Propinsi Bali, Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet pada Kamis (30/4) yang didampingi Patajuh Bandesa Agung, DR I Made Wena, I Ketut Madra, SH,MM., dan Patengen Agung Ir. I Gede Arya Sena, M.Kes. 


Penyerahan Masker Non-Medis oleh Bali Sari Linuwih ini, merupakan program tahap 1 dari keseluruhan program Dari, Oleh dan Untuk Desa Adat yang dicanangkan sebagai sebuah sinergitas antara Bali Sari Linuwih dengan Desa Adat di Bali. 


Dalam sambutan Bandesa Agung, Ida Pangelingsir Agung menyatakan mengucapkan terima kasih atas partisipasi dan kesadaran Bali Sari Linuwih dalam keikutsertaan untuk berjuang mengatasi pandemi COVID 19. Menurut Ida Pangelingsir Agung, disiplin dalam mengikuti anjuran pemerintah dan menggunakan masker serta rutin mencuci tangan. "Penggunaan Masker setiap saat dan rajin mencuci tangan merupakan hal yang paling penting dalam mengatasi penyebaran virus yang sangat cepat seperti saat ini"tegas Ida Pangelingsir Agung. 


Ida Bagus Widya, Pimpinan Bali Sari Linuwih menyatakan bangga bisa ikut terlibat dalam pengelolaan ekonomi berbasis adat dan sumbangsih 2000 masker merupakan program tahap awal dari keseluruh program sinergitas Dari, Oleh dan Untuk Desa Adat yang dicanangkan. " Kami berpikir, semua orang saat ini punya tanggungjawab untuk menjaga Bali sekaligus menjaga populasi anak Bali, ini harus dilakukan dengan satu gerakan nyata"ungkapnya.

Minggu, 16 Februari 2020

LPD KEDONGANAN KONSISTEN LAKUKAN GEBRAKAN

Setelah Sediakan Krama, Kredit Perumahan Murah, Sekarang Bagikan 8,3 Ton Daging Babi dan 7,5 Ton Beras Organik Kepada Krama Adat Kedonganan

Ribuan Krama Adat Kedonganan
Yang Merupakan Nasabah LPD Kedonganan
Menerima Daging Babi Gratis Dari LPD Kedonganan

Setelah melakukan gebrakan yang sempat viral beberapa waktu lalu dengan program Krura (Kredit Perumahan Krama), LPD Kedonganan di bawah kepemimpinan Ketua LPD, Bapak I Ketut Madra SH., MM., kembali melakukan gebrakan atraktif dengan membagikan 8,5 Ton Be Celeng (Daging Babi) dan 7,5 Ton Beras Organik (Tersertifikat) kepada Krama Adat Kedonganan.

Dalam sambutannya, Ketut Madra, yang juga Patajuh Bandesa Agung Bidang Ekonomi Majelis Desa Adat Propinsi Bali, menyampaikan, acara pembagian Daging Babi  ini sudah berjalan ke 13 kalinya dan untuk pelaksanaan di Tahun 2020, selain Daging Babi dibagikan juga Beras Organik tersertifikat sejumlah 7,5 Ton kepada Krama Adat Kedonganan.

Lebih jauh, Ketut Madra menyampaikan saat ini LPD Kedonganan sudah bisa mencapai aset  Rp. 412 Milyar dengan labda (keuntungan)  sebesar 9 M lebih dan didedikasikan untuk pembangunan ekonomi krama adat Kedonganan.

Melalui visi menjadikan LPD Sehat, Kuat, Tangguh, Bermanfaat serta Berkelanjutan untuk melaksanakan Panca Yadnya serta mewujudkan Panca Kreta, LPD Kedonganan telah membuktikan komitmennya sejak berdiri 30 tahun silam mewujudkan Krama Adat Kedonganan yang sejahtera dengan mendirikan Pasar Tradisional, 24 Resto Ikan Bakar di Pantai Kedonganan serta mendorong ekonomi krama mandiri dengan memberikan dukungan pembiayaan modal kerja. Selain itu, di aspek sosial LPD Kedonganan memastikan pelaksanaan Panca Yadnya dengan Program Beasiswa, Ngaben Massal Gratis dan Piodalan secara berkala.

Di sisi lain, Daging Babi yang dibagikan di tengah merebaknya isu kasus Flu Babi Afrika, tidak hanya menjadi program yang di tunggu oleh Krama Adat Kedonganan, tetapi juga adalah gerakan cerdas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat Bali terhadap daging babi.

Proses pembagian daging babi ini sendiri, menurut Ketua LPD, telah  melalui proses panjang, mulai dari pemeliharaan, pemotongan dan penyimpanan serta pendistribusian diawasi langsung oleh Dokter Hewan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Badung serta Dinas Sosial Kabupaten Badung.

"Proses ini, dilakukan untuk memastikan bahwa Daging Babi aman untuk di konsumsi, ini adalah persembahan kami Krama Adat Kedonganan kepada Masyarakat Bali, bahwa mengonsumsi daging babi aman" tegasnya dalam wawancara terpisah.

Acara seremonial Pembagian Daging Babi Dalam Rangka Hari Raya Galungan dengan Tajuk : Ngiring Sareng Sareng Ngardi LPD Kedonganan, selain dihadiri oleh Bandesa Kedonganan, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Badung, Bandesa Agung Majelis Desa Adat Propinsi Bali (keangganin olih Patajuh Bandesa Agung, DR. Made Wena) dan Kepala Dinas Pemajuan Masyarakat Adat Propinsi Bali,  I Gusti Agung Ketut Jaya Seputra.

Dalam sambutannya, Kadis Pemajuan Masyarakat Adat Propinsi Bali memuji langkah hebat LPD Kedonganan yang mampu menjadi LPD  beraset besar dengan  Kategori Sangat Sehat.

"Pembagian Daging Babi ini juga menjadi wujud nyata dalam melaksanakan ketentuan Peraturan Gubernur No. 99 Tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Lokal Bali" pungkasnya. (AN)

Sabtu, 06 Juli 2019

KEMANDIRIAN, HARUS BERDAULAT, BERDAULAT HARUS MEMASTIKAN KRAMA BALI YANG TERLIBAT

Apa jadinya, jika konsep kemandirian yang fundamental dibangun dalam intisari Perda Desa Adat di Bali dan implementasiya ini malah tidak memberikan dampak signifikan bagi Krama Bali? 

Hal inilah yang terlihat sepele namun perlu di perhatikan dan diimplementasikan secara cermat di lapangan. Menyusun konsep kemandirian harus dimulai dengan memastikan bahwa Resources Krama Bali dilibatkan dengan massif oleh pemangku kepentingan termasuk didalamnya adalah Desa Adat itu sendiri. 

Kami memastikan bahwa Akademi Ritel Indonesia mampu memberikan layanan terbaik dan mampu membangun konektivitas krama Bali untuk pembentukan Toko BUPDA di Desa Adat. 

Bergabunglah bersama kami untuk mendiskusikan dan merancang Toko BUPDA untuk memastikan Bapak/Ibu telah MEMULAI DENGAN BENAR

Whatsapp kami di 08563757178
atau Call 0361.4794891
atau kunjungi Kampus Akademi Ritel Indonesia di Jalan By Pass IB. MANTRA KM 20, LEBIH - GIANYAR (Satu-satunya Kampus Ritel di Indonesia) yang akan launching di Bulan Agustus 2019
atau Klik Website kami di 

JANGAN ASAL BANGUN TOKO BUPDA, PASTIKAN SDM YANG TERSEDIA MAMPU MENGELOLA❗

Keberpihakan yang luar biasa Pemerintah Propinsi Bali melalui
diberlakukannya Perda No. 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali harus dimanfaatkan dan direspon dengan cepat, tepat dan maksimal oleh Desa Adat.

Salah satunya adalah melalui pendirian Toko Ritel dan Grosir yang mampu mengambil peran dalam sektor distribusi riil di wewidangan Desa Adat itu sendiri.

Dalam hal membentuk dan mengelola, faktor SDM menjadi sangat dominan dan penting.
Kami akan membantu dan berpengalaman dalam pendampingan untuk memulai sekaligus menyiapkan SDM yang mampu memastikan keberlanjutan BUPDA.

faktor SDM ini menjadi sangat penting karena sebagian besar kegagalan pengelolaan BUPDA disebabkan oleh SDM yang tidak kompeten dan tidak dilatih dengan baik
Kami, Akademi Ritel Indonesia, memiliki puluhan krama Bali sebagai trainer dan praktisi serta telah berpengalaman melatih dan  mendampingi 78 pengusaha ritel lokal Bali untuk membangun serta bertumbuh dengan usaha ritel baik dalam format Minimarket, Speciality Store, Supermarket maupun Toko Grosir di seluruh Bali. Silahkan Cek WEBSITE kami :
 www.akademiritelindonesia.com

Bapak I Made Abdi Negara (Pendiri Akademi Ritel Indonesia), adalah pencetus sekaligus penyusun konsep Penggak Kerthi yang telah diuji oleh Kelompok Ahli Gubernur Bali, OPD dan di kukuhkan oleh Bapak Gubernur Bali pada 9 April 2019 sebagai konsep rancang bangun pembentukan BUPDA di Desa Adat dan skema pemusatan distribusi sebagai bagian dari strategi menuju kemandirian ekonomi Bali di sektor Fast Moving Consumer Goods. 

Bergabunglah bersama kami untuk mendiskusikan dan merancang Toko BUPDA untuk memastikan Bapak/Ibu telah MEMULAI DENGAN BENAR

Whatsapp kami di 08563757178
atau Call 0361.4794891
atau kunjungi Kampus Akademi Ritel Indonesia di Jalan By Pass IB. MANTRA KM 20, LEBIH - GIANYAR (Satu-satunya Kampus Ritel di Indonesia) yang akan launching di Bulan Agustus 2019